GSUU : Cukuplah Inclinator Jadi Tumbal Pembangunan

Lubuklinggau, (Radar Silampari)- Inclinator atau kereta miring yang ada di Bukit Sulap, saat ini tengah menjadi sorotan keras dari berbagai pihak, baik organisasi pemuda, pihak legislatif, termasuk berbagai lembaga masyarat.

Sorotan berbagai pihak itu, lantaran inclinator ini tidak ada manfaat saat gelaran balap sepeda yang digelar beberapa waktu lalu, sedangkan anggaran yang digunakan untuk pembangunan inclinator diketahui telah menelan belasan miliar rupiah.

Kecaman keras kali ini datang dari Herman Sawiran, Koordinator Gerakan Sumpah Undang Undang (GSSU) Lubuklinggau dan Musi Rawas. Dirinya menilai bahwa inclinator merupakan bukti nyata pembangunan yang sia-sia dan kini bak ‘besi tua’ yang berada di tengah kawasan TNKS.

“Saya berulang kali menyampaikan dari awal, bahwa GSUU tidak setuju atas pembangunan inclinator tersebut, karena yang pertama menganggu kelestarian kawasan hutan disana, serta dikhawatirkan terjadinya longsor, karena memang itu kawasan dataran tinggi perbukitan,” tegas Herman, Selasa (9/8/2022).

Lanjutnya, GSUU dari awal memang tidak setuju, karena lokasi dibangunnya inclinator ini adalah kawasan yang dilindungi, yaitu wilayah TNKS

“Kalau kita bicara untuk kawasan pariwisata, dengan tidak dibangun inclinator ini, Bukit Sulap memang sudah kawasan pariwisata, tapi apalah daya nasi sudah jadi bubur,” tambahnya.

Tambahnya, apa lagi dana yang digelontorkan sudah belasan miliaran, malah yang terjadi inclinator tidak dapat berfungsi dan tak ada PAD yang didapatkan dari bangunan tersebut.

“Inilah yang namanya pemborosan anggaran di bidang pembangunan yang tidak ada manfaatnya. Sedangkan alat-alat kelengkapan pada sudah rusak semua serta tak terpelihara. Cukup miris kita melihatnya,” ungkapnya.

Herman Sawiran, juga tegas meminta kepada pihak legislatif untuk lebih jeli lagi dalam hal menerima usulan untuk pembagunan. Apalagi, pembangunan yang nantinya tak ada azaz manfaat bagi Kota Lubuklinggau kedepannya.

“Dan juga untuk eksekutif stop-lah bermimpi untuk pembangunan yang tidak mungkin terjadi untuk dibangun. Ada lagi misal mimpi membangun pantai buatan, cukup inclinator ini saja yang jadi tumbal. Kami berharap legislatif kedepannya lebih tegas dan jeli lagi dan harus memiliki keberanian untuk mencoret usulan pembangunan yang tidak rasional,” pungkasnya. (Pranata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *